Donasi Terkumpul Sampai Sekarang

Hingga saat ini, 26 Oktober 2009, donasi yang telah terkumpul sebesar IDR 410,000. Kami menanti donasi Anda berikutnya, segera bergabung dengan kami untuk mendukung pendidikan adik-adik kita yang kurang mampu.

Selasa, 13 Oktober 2009

Di balik Gerakan 10ribu

Ani (bukan nama sebenarnya) adalah anak usia 11 tahun yang duduk di kelas 5 SD Negeri di kota X. Tubuhnya lebih kecil dibanding teman2 sebayanya, nampak sedikit pendiam, namun amat cerdas. Jika teman2nya harus menggunakan buram untuk menyelesaikan soal2 matematika, Ani cukup memandang soal tersebut, lalu “somehow” jawabannya muncul di kepalanya. Dia tidak pernah mengenyam kursus aritmatik, kumon, sempoa atau sejenisnya. Boro2 kursus, sepulang sekolah dia harus bekerja membantu bapaknya yang bekerja sebagai tukang servis sepatu di pasar. Kadang dia membantu menggambar pola untuk sepatu yang diservis, memotong kulit yang hendak dijadikan sol, menjahit, mengelem, atau kalau sepatunya selesai ia segera mengantarkan ke rumah pemilik sepatu agar mendapat uang jasa perbaikan. Mimpi untuk masuk SMP pun dia tidak berani - “tidak ada uang”, jawabnya pendek, sambil menggambar pola untuk sol sepatu yang sedang diperbaikinya.



Mungkin setelah lulus SD, bapaknya akan lebih melibatkan Ani dalam “bisnis servis sepatu”nya. Dari pagi hingga sore, Ani akan berada di gerobak kecil itu, membantu men-servis sepatu agar lebih banyak sepatu yang bisa diselesaikan. Beberapa tahun kemudian, Ani kecil sudah berusia 16-17 tahun. Ayahnya segera mengawinkannya dengan pemuda yang baik, lulusan SMP, yang bisa diharapkan untuk bisa melanjutkan “bisnis servis sepatu”-nya.



Hei, bagaimana dengan kecerdasan Ani yang luar biasa itu? Lupakan saja daripada miris membayangkan masa depannya kalau dia tidak berhasil melanjutkan SMP.



Padahal dengan kecerdasan yang sama, Marie Currie (Perancis) di tahun 1903 berhasil mendapatkan nobel fisika untuk teori radioaktif-nya. Dengan kecerdasan yang sama, Eugenia Malinnikova (USSR) memenangi 3 medali emas berturut-turut di IMO (Olimpiade matematika internasional) di tahun 1989, 1990 dan 1991. Dengan kecerdasan yang sama, seorang remaja putri Indonesia mendapatkan beasiswa studi di bidang Computer Science di NUS (Singapore), yang kemudian menjadi IT professional di salah satu international company dengan gaji 5 digit US$ per tahun.



Miris jika membayangkan masa depan Ani (dan Ani-ani lain yang jumlahnya pasti ribuan di seluruh Indonesia). Kami membayangkan bahwa bantuan pendidikan Rp. 200rb per bulan, mampu mengubah masa depan Ani. Bukan hanya Ani, tapi juga nasib anak-anaknya ketika Ani sudah menikah kelak. Nasib generasi berikutnya akan berbeda jika Ani tetap dalam gerobak kecilnya menservis sepatu dibandingkan dengan jika Ani menjadi peneliti/ilmuwan yang kontribusi penelitiannya membantu banyak umat manusia. Pilihan hidupnya dimulai dari sebuah pertanyaan kecil yang berdampak besar bagi masa depannya “Adakah uang untuk melanjutkan SMP?“.



Munculnya Gerakan 10ribu


Nama gerakan ini adalah gerakan 10ribu. Idenya adalah menggalang sebuah “dana abadi” yang pengelolaannya diperuntukkan membantu anak2 seperti Ani. Setiap orang yang mau mendukung gerakan ini, memberikan uang Rp. 10ribu, satu kali - tidak boleh lebih dari Rp. 10ribu dan tidak boleh lebih dari satu kali! Setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama, yaitu 10ribu, satu kali.



Berapapun dana pokok yang terkumpul, tidak akan diutak-atik. Yang akan disumbangkan dan dikelola adalah interest/bunga dari dana pokok tersebut. Logikanya, dana pokok akan terus semakin bertambah seiring dengan bertambahnya pendukung gerakan ini… Lalu dana tersebut akan menjadi dana abadi yang semakin lama semakin besar jumlahnya. Dengan semakin besar jumlah dana pokoknya, maka semakin besar pula interest/bunga yang dapat disumbangkan dan akan semakin banyak anak terbantu untuk menyelesaikan studi mereka. Masa depan mereka akan berbeda karena ada orang2 yang rela memberikan 10ribu-nya.




Your 10thousand, can make brighter Indonesia.

Your 10thousand, can make a better generation.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar